Analisa Saham Bank Capital (BACA) Terkait Rights Issue 20 Miliar

Analisa Saham Bank Capital (BACA) Terkait Rights Issue 20 Miliar

Analisa Saham Bank Capital (BACA)

PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA) akan menambahkan modal melalui rights issue. Tidak main-main, emiten ini merencanakan mengeluarkan saham baru sebanyaknya 20 miliar saham baru dengan nominal Rp 100 per saham. Tambahan modal ini diperuntukkan perkuat susunan pendanaan hingga bisa tingkatkan performa dan daya saing dalam industri perbankan. Bank ini tengah merencanakan berubah jadi bank digital.

Sampai sekarang, Bank Capital baru mempunyai modal pokok Rp 1,51 triliun naik. Maknanya, Bank Capital memerlukan modal tambahan sekitaran Rp 1,5 triliun kembali untuk penuhi ketetapan minimal modal pokok yang diputuskan OJK sejumlah Rp 3 triliun di akhir 2022. Bank Capital akan minta kesepakatan dari pemegang saham terkair gagasan tambahan modal itu melalui RUPSLB yang hendak diadakan pada 25 Agustus 2021. “Tambahan modal tetap dilaksanakan tahun ini untuk penuhi ketetapan OJK,” kata Direktur Khusus Bank Capital Wahyu Aji.

Saham Bank Capital

Lalu siapakah calon investor baru yang hendak masuk perkuat modal Bank Capital?

Awalnya, tersebar rumor jika bank ini tengah disukai beberapa investor. Sea Group salah satunya investor yang disebutkan tertarik sesudah sukses mengakuisisi Bank Kesejahteraan Ekonomi yang sekarang ganti nama jadi Sea Bank. Adapun formasi pemilik saham Bank Capital terbagi dalam PT Delta Indo Swakarsa 13,96%, PT Inigo Global Capital, 14,71%, Asuransi Simas Jiwa – Simas Equity Fund 2 sekitar 11,41%, dan khalayak 59,92%.

Seperti diketahui Bank Capital akan berubah jadi bank digital. Awalnya, Kewenangan Jasa Keuangan (OJK) mengatakan jika bank ini sedang dalam proses ajukan ijin jadi bank digital bersama dengan enma bank yang lain seperti Bank BCA Digital, PT Bank Harda Internasional Tbk., PT BRI Agroniaga Tbk,  PT KEB HanaBank, PT Bank Neo Commerce Tbk, dan PT Bank QNB Indonesia Tbk. Sementara,beberapa bank yang sudah mengatakan diri sebagai bank digital seperti Genius dari Bank BTPN, Wokee dari Bank Bukopin, Digibank dari Bank DBS, TMRW Bank UOB, Jado punya Bank Jago, MotionBanking dari MNC Bank, dan Bank Aladin.

OJK sudah melansir aturan bank umum yaanag tercantum pada POJK Nomor 12/POJK.03/2021.

Didalamnya terhitung atur berkaitan bank digital yang diartikan sebagai bank memiliki badan hukum Indonesia yang sediakan dan jalankan aktivitas usaha yang intinya lewat aliran electronic tanpa kantor fisik selainnya kantor pusat (KP), atau bisa memakai kantor fisik yang terbatas.

Bank digital bisa bekerja lewat dua tipe mode yaitu dapat membangun bank baru sebagai bank digital atau bank umum eksisting alterasi jadi bank digital. Untuk pendirian bank baru karena itu persyaratan intinya harus mempunyai modal pokok minimal Rp 10 triliun.

Sementara syarat yang perlu disanggupi bank digital baik bank baru atau yang berubah dari bank eksisting salah satunya mempunyai mode usaha dengan pemakaian tehnologi yang inovatif dan aman dalam layani keperluan nasabah, mempunyai kekuatan untuk mengurus mode usaha perbankan digital yang pruden dan berkaitan, punyai management resiko yang ideal, penuhi faktor tata urus terhitung pemenuhan direksi yang memiliki kapabilitas di bagian tehnologi info dan kapabilitas lain, jalankan pelindungan pada keamanan data nasabah, dan memberinya usaha yang kontributif pada perubahan ekosistem keuangan digital dan inklusi keuangan.

Demikian pembahasan terkait Analisa Saham Bank Capital (BACA) Terkait Rights Issue 20 Miliar, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.